Bau Nyale atau tradisi menangkap cacing laut akan digelar pada Kamis, 17 Februari 2017 pagi di Pantai Seger, Kuta, Lombok Tengah. Acara tahunan Bau Nyale adalah tradisi adat suku sasak Lombok untuk mengenang sosok Putri Mandalika.
Seorang tokoh adat, Lalu Putria, yang juga Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menjelaskan nyale-nyale tersebut diyakini oleh masyarakat Suku Sasak sebagai jelmaan dari putri Mandalika yang lompat dari atas tebing karena enggan memilih beberapa pangeran yang melamarnya.
“Demi rakyatnya beliau (Putri Mandalika) tidak memilih seorang pangeranpun dan memilih menceburkan dirinya ke laut,” jelasnya.
Konon, jasad Putri Mandalika berubah menjadi cacing warna warni atau nyale. Menangkap nyale tersebut merupakan wasiat Putri Mandalika sesaat sebelum bunuh diri di Pantai Seger.
“Beliau (Putri Mandalika) berpesan kepada rakyat suku Sasak untuk datang mencari nyale setiap tanggal 20 penanggalan Rowot (sasak),” kata Putria.
“Sesuai kalender Sasak tersebut, tanggal 20 bulan 10 penanggalan rowot untuk tahun ini bertepatan dengan tanggal 17 Februari 2017.”
Penata Kostum Jember Carnaval
Pelaksanaan parade budaya Bau Nyale kali ini melibatkan penata kostum Jember Carnaval, karnaval di Jember, Jawa Timur yang sudah mendunia.
Baca Juga
Catat, Festival Tangkap Cacing Bau Nyale Digelar 16 Februari
VIDEO: Bau Nyale, Tradisi Tangkap Cacing Jelmaan Putri Mandalika
Istilah Kelamin Perempuan di Bau Nyale Bukan Ajaran Sasak
“Untuk parade budaya akan kemas dengan baik. Bahkan agar ini bisa menarik, kita melibatkan penata kostum yang terlibat di ajang Jember Carnaval,” kata Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat, Lalu Mohammad Faozal, Rabu 15 Februari 2017, dilansir Antara.
Selain melibatkan penata kostum pada Jember Carnaval, kata dia, pihaknya juga mendatangkan desainer asal Solo, Jawa Tengah. Hal ini dilakukan agar kegiatan parade budaya Bau Nyale lebih menarik dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

